Makassar Buserterkini com.
Di sebuah sudut tenggara Sulawesi Selatan, terhampar kabupaten kecil yang kaya akan pesona alam dan budaya, Jeneponto. Di sana, di tengah hiruk-pikuk kehidupan masyarakat nelayan dan petani, lahir seorang pemimpin yang tak hanya membawa perubahan, tetapi juga membawa harapan—Bupati Jeneponto, Haji Paris Yasri. Ia bukan sekadar pejabat yang duduk di balik meja besar, melainkan sosok yang terbiasa menyapa rakyatnya di pasar pagi, bersepeda di jalan desa, dan duduk bersila di teras rumah warga miskin.
Haji Paris Yasri, atau yang akrab dipanggil Pak Bupati Paris, telah menjadi simbol baru kepemimpinan yang rendah hati. Di tengah tren politik yang kerap dipenuhi kemewahan dan jarak antara pemimpin dengan rakyat, sosoknya menjadi angin segar. Ia tidak memilih hidup megah di istana bupati, melainkan memilih gaya hidup sederhana yang sangat dekat dengan akar budaya masyarakat Jeneponto.
Banyak warga Turatea, ibu kota Kabupaten Jeneponto, yang masih takjub melihat bagaimana bupati mereka bisa begitu mudah ditemui. Tanpa protokoler berlebihan, Haji Paris kerap berjalan kaki di pasar tradisional, menanyakan harga ikan kepada para nelayan, atau ikut duduk di warung kopi sambil mendengarkan curahan hati petani tentang kesulitan irigasi. “Beliau bukan pemimpin yang datang dari atas, tapi pemimpin yang tumbuh dari bawah, dari tanah ini sendiri,” ujar Andi Baso, seorang pedagang ikan di Pasar Sentral Jeneponto.
Kisah sederhananya bukan sekadar pencitraan. Latar belakang Haji Paris sebagai putra keluarga biasa di pelosok Jeneponto membuatnya memahami betapa pentingnya kepemimpinan yang hadir untuk melayani, bukan untuk dilayani. Ia yang dulunya aktif di organisasi kemasyarakatan dan pernah menjadi birokrat di tingkat provinsi, memilih kembali ke kampung halaman dengan misi: membangun Jeneponto dari bawah, dengan hati.
Program-program yang digagasnya pun mencerminkan prioritas rakyat kecil: perbaikan jalan poros desa, beasiswa untuk pelajar kurang mampu, pelatihan keterampilan bagi perempuan nelayan, hingga inovasi digital untuk mempermudah pelayanan publik. Yang menarik, ia tak pernah lupa untuk selalu bermusyawarah dengan tokoh adat dan tokoh agama sebelum mengambil keputusan besar. Baginya, “Pemimpin bukan yang paling pintar, tapi yang paling bisa mendengar.”
Namun, yang paling menyentuh hati masyarakat adalah sikapnya yang tak pernah menganggap dirinya lebih tinggi dari rakyat. Meski berstatus sebagai Bupati, ia tetap menjalani ibadah di masjid-masjid kecil di pelosok, dan bahkan pernah tertidur pulas di teras balai desa setelah menghadiri pertemuan sampai larut malam. “Beliau makan nasi bungkus bersama staf, minum air putih dari termos tua. Itu bukan teater politik, itu memang cara hidup beliau,” kata salah satu pegawai setia yang sering menemani kunjungan kerjanya.
Sejak masa kepemimpinannya, angka kemiskinan di Jeneponto mulai turun. Infrastruktur kian membaik. Semangat gotong royong yang sempat redup kini kembali membara. Tetapi, yang paling berharga dari semua itu adalah kepercayaan. Rakyat mulai percaya bahwa pemimpin bisa jujur, bersahaja, dan tulus.
Di tengah kota kecil Turatea, di bawah langit biru yang dinaungi pepohonan aren khas Jeneponto, nama Haji Paris Yasri tak hanya terpampang di papan nama kantor bupati. Ia hadir dalam senyum para ibu penjual ikan, dalam tawa anak-anak sekolah yang kini punya seragam baru, dan dalam doa-doa yang terlantun di masjid-masjid: Semoga pemimpin kami tetap sederhana, tetap dekat, dan tetap menjadi milik kami.
Karena di tengah dunia yang penuh kemegahan, kadang kebesaran sejati justru terlihat dalam kesederhanaan. Dan Haji Paris Yasri, dengan kerendahan hatinya, membuktikan bahwa pemimpin sejati bukan yang paling tinggi jabatannya, tapi yang paling rendah hatinya.
(Arifuddin sikki)

